TOP NEWS

Ketika Kamu BERHASIL, Teman-Temanmu Akhirnya Tahu Siapa KAMU...dan Ketika Kamu GAGAL Kamu Akhirnya Tahu Siapa Teman-Temanmu...

Selasa, 13 November 2012

Sejarah Masuknya Hindu Budha Di Indonesia


          A. Sejarah Masuknya Hindu Budha Di Indonesia

Agama Hindu dan Budha berasal dari Jazirah India yang sekarang meliputi wilayah negara India, Pakistan, dan Bangladesh. Kedua agama ini muncul pada dua waktu yang berbeda (Hindu: ±1500 SM, Budha: ±500 SM), namun berkembang di Indonesia pada waktu yang hampir bersamaan. Munculnya agama Hindu dan Budha di Indonesia berawal dari hubungan dagang antara pusat Hindu Budha di Asia seperti China dan India dengan Nusantara. Hubungan dagang antara masyarakat Nusantara dengan para pedagang dari wilayah Hindu Budha inilah yang menyebabkan adanya asimilasi budaya, sehingga agama Hindu dan Budha lambat laun mulai berkembang di Nusantara.
Kepulauan Nusantara yang diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) serta oleh dua samudra (Hindia dan Pasifik), mempunyai letak yang sangat strategis dalam jalur perdagangan dunia kala itu. Hal ini membuat para pedagang asing dari negeri-negeri lain seperti Cina, India, Persia, dan Arab sering singgah di kepulauan Nusantara. Para pedagang asing ini tidak hanya berkepentingan untuk berdagang di Nusantara. Mereka juga menjalin interaksi secara sosial budaya dengan masyarakat lokal, sehingga masuklah pengaruh-pengaruh kebudayaan mereka ke Nusantara, termasuk pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha. Sebenarnya ada beberapa teori yang diajukan oleh para ahli mengenai siapa sebenarnya yang membawa agama Hindu dan Budha di Indonesia, berikut adalah beberapa teori/hipotesa mengenai masuknya agama hindu dan budha di indonesia.

1.      Teori Brahmana
Teori yang diprakarsai oleh Van Leur ini menyatakan bahwa kaum Hindu dari kasta Brahmanalah yang mempunyai peran paling besar dalam proses masuknya agama dan budaya Hindu di Indonesia. Hal ini mengingat bahwa Kitab Weda ditulis dengan Bahasa Sansekerta yang hanya dipahami oleh kaum Brahmana. Para Brahmana yang berasal dari pusat-pusat Hindu di dunia ini datang karena undangan para penguasa lokal yang ingin yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai agama Hindu. Para raja/penguasa pribumi tersebut adalah penganut kepercayaan animisme dan dinamisme sebelum datangnya pengaruh Hindu dan Budha. 
2.      Hipotesa Ksatria
Menurut teori yang diusung oleh C.C. Berg ini, agama Hindu dibawa ke Indonesia oleh kaum ksatria (kaum prajurit kerajaan). Hal ini terjadi karena pada awal abad Masehi sering terjadi kekacauan politik di India sehingga sering terjadi perang antargolongan di negeri ini. Para prajurit perang yang terdasak musuh atau telah jenuh berperang akhirnya meninggalkan tanah air mereka. Diantara para ksatria yang mencari tempat pelarian ini, sebagian ada yang mencapai Indonesia. Mereka inilah yang kemudian membuat koloni dan beralkulturasi dengan penduduk lokal. Hal ini membuat semakin banyak masyarakat lokal yang menganut agama Hindu, pada perkembangan berikutnya, akhirnya lahirlah kerajaan Hindu di Nusantara.
3.      Hipotesa Waisya
Menurut teori ini, kaum Hindu dari kasta Waisya adalah yang paling berjasa dalam penyebaran agama Hindu di Indonesia. Kaum Waisya adalah mereka yang berasal dari kalangan pekerja ekonomi seperti pedagang dan saudagar. Para pedagang yang berasal dari India atau pusat-pusat Hindu lain di Asia ini banyak melakukan hubungan dagang dengan masyarakat atau penguasa pribumi. Hali inilah yang membuka peluang bagi masuknya agama Hindu di Indonesia. Teori Waisya ini diprakarsai oleh Dr. N. J. Krom.

4.   Hipotesa Sudra
Orang-orang yang tergolong dalam Kasta Sudra adalah mereka yang dianggap sebagai orang buangan. Kaum Sudra ini diduga datang ke Indonesia bersama kaum Waisya atau Ksatria. Karena datang dalam jumlah yang sangat besar, kaum Sudra inilah yang telah memberikan andil paling besar terkait masuknya agama Hindu ke Indonesia. Meskipun disampaikan oleh para ahli, keempat teori diatas tetap mempunyai kelemahannya masing-masing. Hal tersebutkarena kitab Weda yang merupakan kitab suci agama Hindu ditulis menggunakan bahasa Sansekerta dan Pallawa yang notabene hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Kaum Ksatria, Waisya, dan Sudra tentu saja akan sangat kesulitan menyebarkan agama Hindu di Indonesia karena mereka tidak memahami Bahasa Sansekerta yang merupakan bahasa dalam kitab Weda. Namun demikian, menurut kepercayaan India kuno, kaum Brahmana tidak boleh menyeberangi lautan sehingga hampir mustahil untuk kaum Brahmana menyebarkan Hindu di Indonesia Secara langsung. 
Karena keempat teori yang saya sampaikan diatas memiliki banyak kelemahan, maka muncullah teori lain yaitu teori arus balik. Teori ini dicetuskan oleh F.D.K Bosch, menurutnya Agama Hindu masuk ke Indonesia karena dibawa oleh orang Indonesia sendiri. Orang-orang Indonesia yang membawa Agama Hindu ke Indonesia ini berasal dari golongan pemuda yang memang sengaja dikirim oleh para penguasa pribumi untuk mempelajari agama Hindu dan Budha di India. Setelah selesai belajar di India, mereka kemudian pulang ke Nusantara lalu mulai menyebarkan agama Hindu atau Budha. 

B. Sejarah Masuknya Hindu dan Budha Melalui kerjaan Sriwijaya

Agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha masuk dan berkembang di wilayah tanah air dalam waktu hampir bersamaan. Ada beberapa kerajaan yang dipengaruhi baik oleh agama Hindu maupun Buddha. Bahkan, ada peninggalan sejarah yang membuktikan bahwa kedua agama itu hidup secara berdampingan
dalam suatu kerajaan. Kerajaan-kerajaan yang mempunyai ciri baik Hindu maupun Buddha, antara lain Kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dan Singasari di Jawa Timur.  Sedangkan kerajaan yang bercorak Buddha antara lain Sriwijaya di Sumatra Selatan.
Kerajaan Sriwijaya sudah dikenal pada tahun 682. Pusatnya di muara Sungai Musi, dekat Palembang. Awalnya, Sriwijaya hanya kerajaan kecil. Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan besar setelah dipimpin oleh Dapunta Hyang. Dapunta Hyang berhasil memperluas daerah kekuasaannya dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
Sriwijaya mencapai puncak kejayaan ketika diperintah oleh Raja Balaputradewa. Letaknya sangat strategis bagi pelayaan, yaitu di dekat Selat Malaka dan Selat Sunda. Sriwijaya menjadi kerajaan Maritim yang besar dan dilengkapi dengan armada kuat. Situasi yang aman bagi pelayaran membuat banyak kapal asing singgah di pelabuhan Sriwijaya. Sejak saat itu, Sriwijaya menjadi pusat perdagangan.
Kerajaan Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat agama Buddha. Hal itu diceritakan seorang pendeta Buddha, I-tsing, yang pernah tinggal di Palembang. Banyak Candi dan kuil agama Buddha didirikan. Di Sriwijaya terdapat Perguruan Tinggi agama Buddha. Mahaguru yang terkenal adalah Sakyakirti. Kerajaan Sriwijaya juga menjalin kerja sama dengan Perguruan Tinggi Nalanda di India. Kerajaan Sriwijaya banyak mengirimkan mahasiswanya. Raja Sriwijaya membantu memperbaiki kuil di Kanton, Cina pada awal abad ke-11.
Keruntuhan Sriwijaya disebabkan oleh serangan dari kerajaan Colamandala dari India Selatan, dari kerajaan Singasari, dan Majapahit. Tahun 1025 ibu kota Sriwijaya diserbu dan Raja Sanggarma Wijayatunggawarman ditawan musuh. Tahun 1275, Singasari menyerang Sriwijaya. Kerajaan Majapahit juga menyerang Sriwijaya pada tahun 1377.

08.37 Diposkan oleh arifin 0

Kamis, 08 November 2012

Pengertian Dan Definisi Belajar Menurut Para Ahli

Kemampuan manusia untuk belajar adalah ciri penting yang membedakan jenis manusia dari jenis mahluk lainnya. Melalui belajar dapat memberikan manfaat bagi individu dan juga masyarakat. Bagi individu, dengan kemampuan individu untuk belajar terus menerus memberikan sumbangan pengembangan berbagai gaya hidup. Kegiatan membaca, menulis, bermain musik dan mendaki gunung itu merupakan sedikit contoh kegiatan belajar.

Menurut Hamalik (2011:27) menyatakan bahwa, “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defened as the modification or strengthening of behavior through experiencing)”.

Menurut pengertian di atas terlihat bahwa belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat dan menghafal akan tetapi lebih luas, yaitu mengalaminya sendiri.

Menurut Piaget (dalam Karwono.2010:85) bahwa  “Belajar juga disebut perkembangan. Belajar merupakan proses mengolah informasi dalam rangka membangun sendiri pengetahuannya”.

Hal ini menujukan bahwa keberhasilan individu dalam pengolahan informasi menunjuk pada kesiapan dan kematangan dalam perkembangan pengetahuannya. Kesiapan individu dalam belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalamannya sehingga dalam proses membangun pengetahuannya akan menjadi lebih cepat.  

Sedangkan menurut Bruner (dalam Kokom 2010:21) mengatakan bahwa: “Proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia ketahui dalam kehidupannya ”.

Hal ini berarti bahwa belajar bukan suatu transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, yang lebih mengedepankan keaktifan guru, namun disini siswa yang harus aktif dalam suatu proses pembelajaran untuk menemukan konsep setiap materi yang diajarkan agar pembelajaran lebih bermakna.

Dari beberapa pernyataan tersebut maka dapat disimpulkan  bahwa, belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia, yang terbentuk melalui pengetahuan awal atau pengalaman yang bermakna baginya dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan yang lain.


Pengertian Belajar | Definisi Belajar | Pengertian Belajar Menurut Para Ahli | Kesimpilan Belajar Dari Beberapa Ahli 

08.42 Diposkan oleh arifin 3

Pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik


Pendidikan matematika realistik (PMR) merupakan suatu pendidikan dalam pembelajaran matematika di Belanda. Penggunaan kata “ realistic ” sebenarnya berasal dari bahasa belanda “zich realiseren” yang berati untuk dibayangkan. Penerapan PMR diberbagai negara telah disesuaikan dengan budaya dan kehidupan masyarakat. Karena PMR berawal dari suatu hal yang nyata dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat. Hal ini yang menjadi salah satu alasan mengapa PMR dapat diterima di Indonesia dan dikenal dengan nama Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Menurut Shadiq (2010:7) menyatakan “PMRI merupakan suatu pendekatan pembelajaran matematika yang mengungkapkan pengalaman dan kejadian yang dekat dengan siswa sebagai sarana untuk memehamkan persoalan matematika”. Pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik yang dimulai dengan hal-hal yang nyata, dapat dibayangkan, dekat dengan siswa dan lingkungannya. Jadi pendidikan matematika realistik merupakan suatu pendidikan matematika yang lebih menempatkan penekanan penggunaan suatu situasi yang bisa dibayangkan (imagineable) atau nyata (real) dalam pikiran siswa.
Pendidikan matematika realistik adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran. Melalui aktivitas matematisasi horizontal dan vertikal diharapkan siswa dapat menemukan dan mengkontruksikan konsep-konsep matematika.

a.      Prinsip-prinsip Pendidikan Matematika Realistik
Menurut Sofa (2008) Ada tiga prinsip utama dalam PMR, yaitu: guided reinvention and progressive mathematizing, didactical phenomenology, self-developed models. Ketiga prinsip tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
1.         Guided reinvention/progressive mathematizing (penemuan kembali terbimbing/pematematikaan progresif)
Prinsip ini menghendaki bahwa dalam PMR, dari masalah kontekstual yang diberikan oleh guru diawal pembelajaran, kemudian dalam menyelesaikan masalah siswa diarahkan dan diberi bimbingan terbatas, sehingga siswa mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran dengan pendekatan PMR yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.
Menurut penulis, prinsip penemuan ini mengacu pada pandangan kontruktivisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari guru kepada siswa, melainkan siswa sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.
2.         Didactical phenomenology (fenomena pembelajaran)
Prinsip ini terkait dengan suatu gagasan fenomena pembelajaran, yang menghendaki bahwa di dalam menentukan suatu masalah kontekstual untuk digunakan dalam pembelajaran dengan pendekatan PMR, didasarkan atas dua alasan, yaitu: (1) untuk mengungkapkan berbagai macam aplikasi suatu topik yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan (2) untuk dipertimbangkan pantas tidaknya masalah kontekstual itu digunakan sebagai poin-poin untuk suatu proses pematematikaan progresif.
3.        Self – developed models (model-model dibangun sendiri).
Menurut prinsip ini, model-model yang dibangun berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, siswa diberi kebebasan untuk membangun sendiri model matematika terkait dengan masalah kontekstual yang dipecahkan. Sebagai konsekuensi dari kebebasan itu, sangat dimungkinkan muncul berbagai model yang dibangun siswa.
Berbagai model tersebut pada mulanya mungkin masih mirip dengan masalah kontekstualnya. Ini merupakan langkah lanjutan dari re-invention dan sekaligus menunjukkan bahwa sifat bottom up mulai terjadi. Model-model tersebut diharapkan akan berubah dan mengarah kepada bentuk matematika formal. Dalam PMR diharapkan terjadi urutan pengembangan model belajar yang bottom up.

b.      Karakteristik Pendidikan Matematika Realistik
Pendekatan PMR mememiliki beberapa karakteristik yang membedakan dengan pendekatan yang lain. Menurut Treffers (dalam Ariyadi.2012:21) merumuskan lima karakteristik pendidikan matematika realistik, yaitu:
1)      Penggunaan Konteks
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembelajaran matematika. Konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan, penggunaan alat peraga, atau situasi lain selama hal tersebut bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa.
2)      Penggunaan Model untuk Matematisasi Progresif
Dalam pendidikan matematika realistik, model digunakan dalam melakukan matematisasi secara progresif. Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan (bridge) dari pengetahuan dan matematika tingkat konkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal.
3)      Pemanfaatan Hasil Kontruksi Siswa
Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah sehingga diharapkan akan ada strategi yang bervariasi. Hasil kerja dan kontruksi siswa selanjutnya digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika. Karakteristik ketiga ini tidak hanya bermanfaat dalam membantu siswa memahami konsep matematika, tetapi juga sekaligus mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa.
4)      Interaktivitas
Proses belajar seseorang bukan hanya suatu proses individu melainkan juga secara bersamaan merupakan suatu proses sosial. Proses belajar siswa akan menjadi lebih singkat dan bermakna ketika siswa saling mengkomunikasikan hasil kerja dan gagasan mereka.
5)      Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep matematiak yang memiliki keterkaitan. Pendidikan matematika realistik menempatkan keterkaitan (intertwinement) antara konsep matematika sebagai hal yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran. Melalui keterkaitan ini suatu pembelajaran matematika diharapkan bisa mengenalkan dan membangun lebih dari satu konsep matematika secara bersamaan.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka yang dimaksud dengan pembelajaran matematika realistik dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran matematika yang memiliki enam prinsip, yaitu: Prinsip guided reinvention and progressive mathematizing, didactical phenomenology, self-developed models. Ketiga prinsip tersebut kemudian dioprasionalkan menjadi lima karakteristik, yaitu: menggunakan masalah konteks dunia nyata sebagai pangkal tolak pembelajaran, menggunakan model matematika yang dikembangkan sendiri oleh siswa, mempertimbangkan kontribusi siswa, mengoptimalkan interaksi siswa dengan siswa, siawa dengan guru, dan siswa dengan sarana pendukung lainnya, dan mempertimbangkan keterkaitan antara topik dalam pembelajaran.

c.       Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Realistik
                        Menurut Sofa (2008) Langkah-langkah di dalam proses pembelajaran matematika dengan pendidikan matematika realistik, adalah sebagai berikut:
1)   Langkah pertama: memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
2)    Langkah kedua: menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondusi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian  tertentu dari  permasalahan yang belum dipahami.
3)   Langkah ketiga: menyelesaikan masalah kontekstual secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
4)    Langkah keempat: membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.
5)  Langkah kelima: menyimpulkan, yaitu guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.

d.      Kelebihan dan Kerumitan Penerapan Pendidikan Matematika Realistik
Beberapa kelebihan dari Pendidikan Matematika Realistik  (PMR) menurut sofa (2008) antara ain sebagai berikut:
1)  PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari-hari (kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia.
2)      PMR  memberikan  pengertian  yang jelas  dan  operasional  kepada  siswa bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang  dikonstruksi  dan  dikembangkan sendiri  oleh  siswa  tidak  hanya  oleh  mereka  yang  disebut  pakar  dalam  bidang tersebut.
3)      PMR  memberikan  pengertian  yang jelas  dan  operasional  kepada  siswa  bahwa cara  penyelesaian suatu soal atau  masalah  tidak harus tunggal  dan  tidak harus sama  antara  orang  yang  satu  dengan  yang  lain. Setiap orang  bisa  menemukan atau  menggunakan  cara  sendiri, asalkan  orang  itu  bersungguh-sungguh  dalam mengerjakan  soal  atau  masalah  tersebut.  Selanjutnya  dengan  membandingkan cara  penyelesaian  yang  satu  dengan  cara  penyelesaian  yang  lain,  akan  bisa diperoleh  cara  penyelesaian  yang  paling  tepat,  sesuai  dengan  proses penyelesaian soal atau masalah tersebut.
4)   PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada  siswa  bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran  merupakan sesuatu  yang utama  dan untuk mempelajari matematika  orang  harus  menjalani  proses  itu dan  berusaha  untuk menemukan  sendiri  konsep-konsep  matematika,  dengan bantuan  pihak  lain  yang sudah lebih tahu (misalnya guru). Tanpa kemauan untuk  menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.
Sedangkan menurut sofa (2008) beberapa kerumitan dalam penerapan pendekatan  PMR lain sebagai berikut:
1)  Upaya mengimplementasikan PMR membutuhkan perubahan  pandangan yang sangat  mendasar  mengenai  berbagai  hal  yang  tidak  mudah  untuk dipraktekkan,  misalnya  mengenai  siswa, guru  dan  peranan  soal  kontekstual. Di dalam PMR siswa tidak lagi  dipandang  sebagai  pihak yang mempelajari segala sesuatu yang  sudah “jadi”, tetapi sebagai pihak  yang  aktif mengkonstruksi  konsep-konsep  matematika.  Guru  dipandang  lebih sebagai pendamping bagi siswa.
2)   Pencarian  soal-soal  kontekstual  yang  memenuhi  syarat-syarat  PMR tidak selalu  mudah  untuk  setiap  topik  matematika  yang  perlu  dipelajari siswa, terlebih  lagi  karena  soal-soal  tersebut  harus  bisa  diselesaikan  dengan bermacam-macam cara.
3)     Upaya mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara untuk menyelesaikan soal, juga bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru.
4)     Proses pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui soal-soal kontekstual, proses pematematikaan horizontal dan proses  pematematikaan vertikal juga bukan merupakan sesuatu yang  sederhana, karena proses dan mekanisme, berpikir siswa harus diikuti  dengan  cermat,  agar  guru  bisa membantu  siswa  dalam  melakukan  penemuan  kembali  terhadap konsep-konsep matematika tertentu.
08.41 Diposkan oleh arifin 0

Minggu, 04 November 2012

Setrategi Pembelajaran Yang Berorientasi Pada Aktivitas Siswa


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada awalnya istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Stategi tersebut dimaksudkan agar peperangan dapat dimenangkan dengan rencana yang telah disusun. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin tingginya tingkat peradapan manusia banyak bidang-bidang lainnya yang membutuhkan strategi untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Contohnya, pada bidang ekonomi dibutuhkan strategi pemasaran yang baik agar produk yang dijual laku dipasaran. Begitu pula dengan dunia pendidikan yang dalam hal ini adalah pembelajaran di dalam kelas juga membutuhkan sebuah strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Strategi tersebut disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi yang ada dilapangan. Strategi pembelajaran  inilah yang akan membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Strategi tersebut dapat disesuaikan dengan pijakan yang diambil oleh guru.
Seiring dengan perkembangan ilmu pendidikan yang juga mengakibatkan adanya perkembangan dalam dunia pendidikan maka muncul banyak sekali pijakan yang dapat digunakan oleh guru dan juga macam strategi yang dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa. Banyak guru yang belum paham mengenai strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa. Oleh karena hal tersebut makalah ini akan membahas mengenai strategi pembelajaran khususnya yakni pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa. Dan semoga makalah ini akan bermanfaat bagi generasi guru masa depan.

I.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka masalah mangenai Strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik dapat dirumuskan sebagai berikut :
  1. Apa pengertian strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik?
  2. Apa saja kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik?
  3. Apa saja yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan strategi tersebut?
  4. Apa saja langkah pelaksanaan strategi pembelajarannya?
  5. Bagaimana upaya pemecahan kasus pembelajarannya?

I.3. TUJUAN DAN MANFAAT
Setiap tulisan atau karya tulis yang bersifat ilmiah tentunya memiliki tujuan dan manfaat yang sifatnya pengetahuan dalm bentuk ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan makalah ini memiliki tujuan untuk menyelesaikan tugas kelompok untuk mata kuliah strategi pembelajaran, selain itu untuk menjelaskan pengertian strategi pembelajaran yang berorientasi pada siswa, kelebihan dan kekurangan strategi tersebut sehingga dapat menjadi dasar-dasar pertimbangan dalam pemilihan strategi tersebut, bagaimana langkah pelaksanaan strategi tersebut dan bagaimana upaya pemecahan kasus pembelajarannya. Dari hal tersebut dapat diambil manfaat dari pembuatan makalah ini adalah dapat mengetahui pengertian strategi pembelajaran yang berorientasi pada siswa, kelebihan dan kekurangan strategi tersebut sehingga dapat menjadi dasar-dasar pertimbangan dalam pemilihan strategi tersebut, bagaimana langkah pelaksanaan strategi tersebut dan bagaimana upaya pemecahan kasus pembelajarannya, sehingga sebagai calon pendidik atau guru akan dapat menggunakan strategi ini dalam kegiatan pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN

II.1. PENGERTIAN STRATEGI PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI  PADA AKTIVITAS SISWA
Pada mulanya, istilah strategi digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Namun strategi pembelajaran dalam dunia pendidikan diartikan sebagai perencanaan yang  berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk metode  strategi pembelajaran juga disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Untuk dapat mengimplementasikan yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan tercapai secara optimal, ini yang dinamakan metode. Metode digunakan untuk merealisasikan rencana yang telah ditetapkan. Dengan demikian, satu strategi pembelajaran dapat digunakan beberapa metode. Istilah lain yang memiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan atau approch. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses  yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan.
Strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa berarti suatu perencanaan yang  berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu dengan menggunakan pendekatan pada kegiatan atau aktivitas siswa. Dalam standar proses pendidikan, pembelajaran didesain untuk membelajarkan siswa. Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditekankan atau berorientasi aktivitas siswa (PBAS).
Ada beberapa asumsi perlunya pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa. Pertama, asumsi filosofis tentang pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk mengembangkann manusia menuju kedewasaan, baik kedewasaan intelektual, sosial, maupun kedewasaan moral. Oleh karena itu, hakikat pendidikan pada dasarnya adalah interaksi manusia, pembinaan dan pengembangan potensi manusia, berlangsung sepanjang hayat, kesesuaian dengan kemampuan dan tingkat perkembangan sisiwa, keseimbangan antara kebebasan subjek didikdan kewibaan guru, serta peningkatan kualitas hidup.
Kedua, asumsi tentang siswa sebagai subjek pendidikan, yaitu
·      siswa bukanlah manusia ukuran mini, akan tetapi manusia yang sedang dalam tahap perkembangan.
·      Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda.
·      Anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif, kreatif, dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya.
Ketiga, asumsi tentang guru bahwa guru bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar peserta didik dan memiliki kemampuan profesional dalam mengajar.
Keempat, asumsi yang berkaitan dengan proses pengajaran yaitu bahwa proses pengajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem dan peristiwa belajar akan terjadi manakala sisiwa berinteraksi dengan lingkungan yang diatur oleh guru.

II.1.a. Konsep dan Tujuan Pembelajaran yang Berorientasi pada Aktivitas Siswa (PBAS)

Pembelajaran berorientasi aktivitas siswa dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang.
Pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ini menekankan kepada aktivitas sisiwa secara optimal, artinya pembelajaran menghendaki keseimbangan antara aktivitas fisik, mental, termasuk emosional dan aktivitas intelektual. Seorang siswa yang tampaknya hanya diam saja, tidak berarti memiliki kadar pembelajaran berorientasi aktivitas siswa yang rendah dibandingkan dengan seseorang yang sibuk mencatat. Sebab, mungkin saja yang duduk itu secara mental ia aktif, misalnya menyimak, menganalisis dalam pikirannya. Sebaliknya, siswa yang sibuk mencatat tidak bisa dikatakan memiliki kadar pembelajaran atau aktivitas yang tinggi jika yang bersangkutan hanya sekedar secara fisik aktif mencatat, tidak diikuti oleh aktivitas mental dan emosional.
Pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa  juga menghendaki hasil belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan intelektual (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Artinya, dalam pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa pembentukan siswa secara keseluruhan merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ini  tidak menghendaki pembentukan siswa yang secara intelektual cerdas tanpa diimbangi olah sikap dan keterampilan, dan sebagainya.
Pendekatan pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih bermakna. Melalui pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ini siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan informasi itu untuk kehidupannya. Dihubungkan dengan tujuan pendidikan nasional yang ingin dicapai yang bukan hanya membentuk manusia yang cerdas, akan tetapi juga yang lebih penting adalah membentuk manusia yang bertakwa dan memiliki keterampilan disamping memiliki sikap budi luhur, maka pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ini merupakan pendekatan yang sangat cocok dikembangkan.

II.1.b. Peran guru dalam implementasi Pembelajaran yang Berorientasi pada Aktivitas Siswa (PBAS)

Kekeliruan yang kerap muncul adalah adanya anggapan bahwa dengan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa peran guru semakin berkurang. Anggapan semacam ini tentu saja tidak tepat, sebab walaupun pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan aktivitas siswa, tidak berarti mengakibatkan kurangnya peran dan tanggung jawab guru. Baik guru maupun siswa sama-sama harus berperan penuh, oleh karena peran mereka sama-sama sebagai subjek belajar. Adapun yang membedakannya hanya terletak pada tugas yang harus dikerjakan.  Dalam implementasi pembelajaran ini guru tidak berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana memfasilitasi agar siswa belajar. Oleh karena itu, pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga mampu menyesuaikan kegiatan mengajarnya dengan gaya dan karakteristik belajar siswa. Dalam upaya itu ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan guru, antara lain :
·   Mengemukakan berbagai alternatif tujuan pembelajaran yang harus dicapai sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Artinya, tujuan pembelajaran tidak semata-mata ditentukan oleh guru, akan tetapi diharapkan siswa pun terlibat dalam menentukan dan merumuskannya.
·      Menyusun tugas-tugas belajar bersama-sama. Artinya, tugas-tugas apa yang sebaiknya dikerjakan oleh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, tidak hanya ditentukan guru tetapi juga siswa. Hal ini dilakukan untuk memupuk tanggung jawab siswa. Biasanya manakala siswa terlibat dalam menentukan jenis  tugas dan batas akhir penyelesaiannya, siswa akan lebih bertangguung jawab untuk mengerjakannya.
·   Memberikan informasi tentang kegiatan yang harus dilakukan. Dengan pemberitahuan rencana pembelajaran, maka siswa akan semakin paham apa yang harus dilakukan.
·        Memberikan bantuan dan pelayanan kepada siswa yang memerlukannya. Guru perlu menyadari bahwa siswa memiliki kemampuan yang beragam. Karena itu guru harus memiliki kontrol apalagi terhadap siswa yang dianggap lambat dalam belajar.
·         Memberi motivasi, mendorong siswa untuk belajar melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan.
·     Membantu siswa dalam menarik kesimpulan. Dalam implementasi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa, guru tidak menyimpulkan sendiri pokok bahasan yang telah dipelajari.
Selain peran-peran diatas , masih banyak tugas yang menjadi tanggung jawab guru. Guru tidak hanya menempatkan diri sebagai sumber informasi, tetapi berperan sebagai penunjuk dan fasilitator dalam memanfaatkan sumber belajar.

II.1.c. Penerapan Pembelajaran yang Berorientasi pada Aktivitas Siswa dalam proses pembelajaran

Dalam kegiatan belajar mengajar pada pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti mendengarkan, berdiskusi, memproduksi sesuatu, menyusun laporan, memecahkan masalah, dan sebagainya. Keaktifan siswa ada yang dapat diamati secara langsung  seperti mengerjakan tugas, berdiskusi, megumpulkan data dan lainnya. Namun ada juga yang tidak dapat diamati seperti kegiatan mendengarkan dan menyimak. Untuk dapat mengetahui apakah proses pembelajaran memiliki kadar pembelajaran dengan aktivitas siswa yang tinggi, sedang, rendah, dapat dilihat dari kriteria penerapan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Kriteria tersebut menggambarkan sejauh mana keterlibatan siswa dalam pembelajaran baik dalam perencanaan pembelajarann, proses pembelajaran maupun dalam  mengevaluasi hasil pembelajaran. Semakin siswa terlibat dalam ketiga aspek tersebut, maka kadar pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa akan semakin tinggi.
a.       Kadar pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa dilihat dari proses perencanaan
·         Adanya keterlibatan siswa dalam merumuskan tujuan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan serta pengalaman dan motivasi yang dimiliki sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kegiatan pembelajaran.
·         Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun rancangan pembelajaran.
·         Adanya keterlibatan siswa dalam menentukan dan memilih sumber belajar yang diperlukan.
·         Adanya keterlibatan siswa dalam menentukan dan mengadakan media pembelajaran yang akan digunakan.
b.      Kadar pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa dilihat dari proses pembelajaran
·    Adanya keterlibatan siswa baik secara fisik, mental, emosinal maupun intelektual dalam setiap proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari tingginya perhatian dan motivasi siswa untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
·         Siswa belajar secara langsung (experiential learning). Dalam proses pembelajaran secara langsung, konsep dan prinsip diberikan melalui pengalaman nyata seperti mraba, merasakan, mengoperasikan dan sebagainya.
·         Adanya keinginan siswa untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif.
·        Keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia yang dianggap relevan dengan tujuan pembelajaran.
·   Adanya keterlibatan siswa dalam melakukan prakarsa seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan,berusaha memecahkan masalah selama pembelajaran berlangsung.
·         Terjadinya interaksi multi arah, baik antara siswa dengan siswa, antara guru dan siswa.
c.       Kadar pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ditinjau dari kegiatan evaluasi pembelajaran
·         Adanya keteribatan siswa untuk menggevaluasi sendiri hasil pembelajaran yang telah dilakukannya.
·    Keterlibatan siswa secara mandiri untuk melaksanakan kegiatan semacam tes dan tugas-tugas tertentu.
·        Kemauan siswa untuk menyusun laporan baik tertulis maupun secara lisan berkenaan hasil belajar yangg diperolehnya. 
Dari ciri-ciri tersebut dapat ditentukan apakah proses pembelajaran yang diciptakan tinggi, sedang, atau rendah.

II.1.c. Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran yang Berorientasi pada Siswa (PBAS)
Keberhasilan penerapan PBAS dalam proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
A.    Guru
Dalam proses pembelajaran dalam kelas, guru merupakan ujung tombak yang menentukan keberhasilan penerapan PBAS, karena guru orang yang berhadapan langsung dengan sisiwa. Ada beberapa hal yang memengaruhi keberhasilan PBAS dipandang dari sudut guru, sikap profesionalitas guru, latar belakang pendidikan guru, dan pengalaman belajar mengajar.
·            Kemampuan guru
Kemampuan guru merupakan faktor pertama yang dapat memengaruhi keberhasilan pembelajaran dengan pendekatan PBAS. Guru yang memeiliki kemampuan yang tinggi akan bersikap kreatif dan inovatif yang selamanya akan mencoba dan mencoba menerapkan berbagai penemuan baru yang dianggap lebih baik untuk membelajarkan sisiwa.
Kemampuan guru itu bukan hanya dalam tataran desain perencanaan pembelajaran. Dalam aspek perencanaan misalnya, guru dituntut untuk mampu mendesain perencanaan yang memungkinkan secara terbuka siswa dapat belajar sesuai minat dan bakatnya, seperti kemampuan menyusun dan menyajikan materi atau pengalaman belajar siswa, kemampuan untuk merancang desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, kemampuan menentukan dan memanfaatkan media dan sumber belajar, serta kemampuan menentukan alat evaluasi yang tepat untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran.
Kemampuan dalam proses pembelajaran berhubungan erat dengan bagaimana cara guru mengimplementasikan perencanaan pembelajaran, yang mencakup kemampuan menerapkan keterampilan dasar mengajar dan keterampilan mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dianggap mutakhir. Keterampilan dasar mengajar yang harus dimiliki, seperti keterampilan bertanya, keterampilan variasi stimulus, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan memberikan pengutan (reinforcement), dan lain sebagainya. Sedangkan keterampilan mengembangkan model pembelajaran contohnya mengembangkan model inkuiri, discovery, model keterampilan proses, model pembelajaran, metode klinis, advance organize, dan sebagainya.
·            Sikap profesional guru
Sikap profesional guru berhubungan dengan motivasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Guru yang profesional selamanya akan berusaha untuuk mencapai hasil yang optimal. Ia tidak akan merasa puas dengan hasil yang telah dicapai. Oleh karena itu, ia akan selalu belajar untuk menembah wawasan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kemampuan keterampilannya, misalnya dengan melacak berbagai sumber belajar melalui kegiatan membaca, mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah seperti  seminar, diskusi, simposium dan lain-lain. Selain itu dapat juga melacak informasi dengan memanfaatkan hasil-hasil teknologi seperti televisi, radio, komputer dan internet. Penerapan PBAS sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang menuntut aktivitas siswa secara penuhdalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, akan sangat dipengaruhi oleh tingkat profesional guru. PBAS tidak akan berhasil diimplementasikan oleh guru yang memiliki motivasi rendah.
·            Latar belakang pendidikan  dan pengalaman mengajar guru
Latar belakang pendidikan  dan pengalaman mengajar guru akan sangat berpengaruh terhadap implementasi PBAS. Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, memungkinkan guru memiliki pandangan dan wawasan yang luas terhadap variabel-variabel pembelajaran seperti pemahaman tentang psikologi anak, pemahaman terhadap unsur lingkungan dan gaya belajar siswa, pemahaman tentang berbagai model dan metode pembelajaran. Demikian juga halnya dengan pengalaman mengajar. Guru yang telah mengalami jam terbang mengajar yang tinggi memungkinkan ia lebih mengenal berbagai hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran.

B.     Sarana belajar
Keberhasilan implementasi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa juga dapat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana belajar yang meliputi ruang kelas, setting tempat duduk siswa,, media, dan sumber belajar.
·            Ruang kelas
Kondisi ruang kelas merupakan faktor yang menentukan keberhasilan penerapan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa. Ruang kelas yang terlalu sempit misalnya, akn mempengaruhi kenyamanan siswa dalam belajar. Demikian juga dengan penataan kelas. Kelas yang tidak ditata dengan rapi, tanpa ada gambar yang menyegarkan, ventilasi yang kurang memadai, yang akan membuat siswa lelah dan tidak bergairah dalam belajar.
·            Media dan sumber belajar
Pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa merupakan pendekatan yang menggunakan multimedia dan multimetode. Artinya, melalui pembelajaran tersebut siswa memungkinkan untuk belajar dari berbagai informasi secara mandiri, baik dari media grafis seperti buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain. Dari media elektronik seperti radio, televisi, video, komputer dan sebagainya. Oleh karena itu, keberhasilan penerapan pembelajaran ini akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dan pemanfaatan media dan sumber belajar.

C.    Lingkungan belajar
Lingkungan belajar merupakan faktor lain yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa (PBAS). Ada dua hal yang termasuk kedalam faktor lingkungan belajar, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan fisik meliputi keadaan dan kondisi sekolah, misalnya jumlah kelas, laboratorium, perpustakaan, kantin, kamar kecil yang tersedia ; serta dimana lokasi sekolah itu berada. Apabila sekolah terletak didekat terminal atau pasar yang bising, misalnya, ttentu akan memengaruhi kenyamanan anak dalam belajar.
Contoh lingkungan fisik yang lain yaitu, keadaan dan jumlah guru. Keadaan guru misalnya kesesuaian bidang studi yang melatarbelakangi pendidikan guru dengan mata pelajaran yang diiberikannya. Seorang guru lulusan pendidikan teknik misalnya, akan mempengaruhi kinerjanya manakala ia mengajar bidang olahraga. Demikian juga halnya seseorang yang tidak pernah belajar ilmu keguruan tidak akan optimal manakala harus mengajar di depan kelas, bagaimanapun hebatnya kualitas orang tersebut.
Lingkungan psikologis diantaranya iklim sosial yang ada di lingkungan sekolah itu. Misalnya, keharmonisan hubungan antara guru dengan guru, antara guru dengan kepala sekolah, termasuk keharmonisan pihak sekolah dengan orang tua. Pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa merupakan pendekatan pembelajaran yang memerlukan usaha dari setiap orang yang terlibat. Oleh karena itu, tidak mungkin pembelajaran tersebut dapat diimplementasikan dengan sempurna manakala tidak terjadi hubungan yang baik antara semua pihak yang terlibat

II.2. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI PADA AKTIVITAS PESERTA DIDIK PENERAPANNYA DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN

Strategi pembelajaran sebagai suatu metode untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam penggunaannya tidak selalu cocok dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Oleh karenanya strategi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut ini kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa.

II.2.a. Kelebihan Penggunaan Strategi Pembelajaran Yang Berorientasi pada Aktivitas Siswa

1.      Dalam strategi pembelajaran yang berorientasi pada siswa ini menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal, yaitu bahwa ada keseimbangan antara aktivitas fisik, mental, emosional juga aktivitas intelektual. Dengan tujuan untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang.
2.      Siswa berperan sebagai subjek pendidikan bukan objek pendidikan yang harus dijejali dengan berbagai informasi, melainkan siswa tersebut mengolah informasi tersebut dan mengaplikasikannya atau menghubungkannya dengan kehidupan. Sehingga melalui pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa ini siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan informasi itu untuk kehidupannya. Dan menjadikan siswa adalah subjek yang memiliki potensi untuk dapat dikembangkan.
3.      Dalam strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa guru tidak berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa, akan tetapi guru berperan sebagai penunjuk dan fasilitator dalam memanfaatkan sumber belajar. Yang lebih penting lagi bahwa peran guru adalah memfasilitasi agar siswa belajar.
4.      Dalam strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktifitas siswa guru dan siswa sama-sama berperan sebagai subjek belajar yang membedakan hanyalah tugasnya masing-masing.
5.      Kegiatan pembelajaran lebih bermakna dan efisien karena siswa berpartisipasi dalam kegiatan perumusan tujuan pembelajaran dan pengambilan kesimpulan.

II.2.b. Kekurangan Penggunaan Strategi Pembelajaran Yang Berorientasi pada Aktivitas Siswa

1.      Dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktifitas siswa aktif dan tidak aktifnya siswa berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran hanya siswa yang mengetahuinya secara pasti. Karena keaktifan siswa ada yang dapat diamati secara langsung  seperti mengerjakan tugas, berdiskusi, megumpulkan data dan lainnya. Namun ada hal yang tidak dapat diamati seperti kegiatan mendengarkan dan menyimak.
2.      Keberhasilan strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktifitas siswa sangat tergantung kepada apa yang dimiliki oleh guru seperti kemampuan guru, sikap profesionalitas guru, latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar guru. Karena hal-hal tersebut yang sangat menentukan bagaimana guru bisa menjalankan perannya sebagai penunjuk dan fasilitator sehingga guru dapat memfasilitasi siswanya untuk belajar. Tanpa hal-hal yang harus dimiliki oleh guru tersebut dapat dipastikan proses kegiatan pembelajaran tidak akan berhasil dengan baik.

II.3. DASAR PERTIMBANGAN PEMILIHAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kberfikir informasi dan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh siswa, maka pada saat itu juga semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat terwujud secara efektif dan efisien. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran itu cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Oleh karenanya dalam pemilihan strategi pembelajaran terdapat prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran yang dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pemilihan strategi pembelajaran, adalah sebagai berikut :
1.        Berorientasi pada tujuan
Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas guru dan siswa,mestilah harus diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Oleh karenanya keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu strategi  yang harus digunakan guru. Hal ini sering dilupakan guru. Guru yang yang senang berceramah, hampir setiap tujuan menggunakan strategi penyampaian, seakan-akan dia berpikir bahwa segala jenis tujuan dapat  dicapai dengan strategi yang demikian.
Strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik sangat cocok digunakan dalam pembelajaran dengan tujuan pemecahan masalah, contohnya seperti kegiatan diskusi.
2.        Aktivitas
Srategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik ini baik untuk digunakan karena dasar pertimbangan prinsip aktivitas karena kegiatan belajar itu bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak dimaksudkan  terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat  psikis seperti aktivitas mental. Guru sering lupa dengan hal ini. Banyak guru yang terkecoh oleh sikap siswa yang pura-pura aktif padahal tidak.
3.        Individualitas
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu siswa. Walaupun mengajar pada sekelompok siswa, namun pada hakikatnya yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku setiap siswa. Oleh karena itu, dilihat dari segi jumlah siswa sebaiknya standar keberhasilan guru ditentukan setinggi-tingginya. Semakin tinggi standar keberhasilan ditentukan, maka semakin berkualitas proses pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa baik digunakan untuk mengembangkan potensi individualitas dengan menggunakan metode Time Token Arends, karena metode tersebut menghindari siswa mendominasi pembicaraan dalam kegiatan pembelajaran dan atau siswa yang diam sama sekali.
4.        Integritas
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan juga meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek psikomotorik. Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa secara terintegrasi. Penggunaan metode diskusi misalnya, guru harus dapat merancang strategi pelaksanaan diskusi tak hanya terbatas pada pengembangan aspek intelektual saja, tetapi harus mendorong siswa agar mereka bisa berkembang secara keseluruhan, seperti mendorong agar siswa dapat menghargai pendapat orang lain, berani mengeluarkan gagasan atau ide orisinil, bersikap jujur, dan lain-lain. Disamping itu, bab IV pasal 19 peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Sesuai dengan isi peraturan pemerintah diatas, maka ada sejumlah prinsip khusus dalam pengelolaan pembelajaran, sebagai berikut :
·           Interaktif
Prinsip interaktif mengandung makna bahwa mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa akan tetapi mengajar dianggap sebagai proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Melalui proses interaksi, memunggkinkan kemampuan siswa akan berkembang baik mental maupun intelektual.
·           Inspiratif
Proses pembelajaran adalah proses inspiratif, yang memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu.berbagai macam informasi dan proses pemecahan masalah dalam pembelajaran bukan harga mati yang bersifat mutlak, tetapi merupakan hipotesis yang merangsang siswa untuk mau dan mencobanya.
·           Menyenangkan
Proses pembelajaran adalah proses yang dapat mengembangkan seluruh potensi siswa yang dapat terwujud jika siswa terbebas dari rasa takut, dan menegangkan. Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat dilakukan dengan, pertama, dengan menata ruangan yang apik dan menarik,yang memenuhi unsur kesehatan seperti pengaturan cahaya, adanya ventilasi, serta memenuhi unsur keindahan misalnya cat tembok yang bersih, bebas dari debu, dan sebagainya. Kedua, melalui pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media, dan  sumber belajar yang relevan serta gerakan-gerakan guru yang mampu memberikan motivasi belajar siswa.
·           Menantang
Proses pembelajaran merupakan proses yang menantang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui rasa ingin tahu siswa. Apapun yang dilakukan dan diberikan guru harus dapat merangsang siswa untuk berfikir dan melakukan. Untuk itu dalam hal-hal tertentu sebaiknya guru memberikann informasi yang “meragukan” sehingga karena keraguan itulah siswa terangsang untuk membuktikannya.
·           Motivasi
Motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk membelajarkan siswa. Tanpa adanya motivasi, tidak mungkin siswa memiliki kemampuan untuk belajar. Oleh karena itu, membangkitkan motivasi merupakan salah satu peran dan tugas guru dalam setiap proses pembelajaran.

Dari pemaparan prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran dalam konteks standar proses pendidikan tersebut diatas strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik dapat memenuhi prinsip-prinsip diatas sehingga strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang sifatnya banyak membutuhkan peran serta siswa atau aktivitas siswa seperti pembelajaran berdasarkan pemecahan masalah, contohnya diskusi dan lainnya.

II.4. LANGKAH PELAKSANAAN STRATEGI PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI PADA AKTIVITAS SISWA

Strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas peserta didik sebagai sebuah strategi pembelajaran yang merupakan suatu perencanaan memiliki langkah-langkah pelaksanaannya. Berikut ini langkah-langkah pelaksanaan strategi pembelajaran :
1.      Guru membuka kegiatan pembelajaran sebagai langkah awal prapembelajaran, dengan memberikan motivasi kepada siswa.
2.      Guru sedikit menjelaskan kompetensi yang akan dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Kemudian siswa berdiskusi dan mencari sumber belajar dan alat pendukung yang berkaitan dengan kompetensi yang akan dicapai tersebut. Guru juga selalu memotivasi siswa untuk terus terlibat dan berpartisipasi dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. Sehingga tidak hanya guru yang merumuskan tujuan pembelajaran, tetapi siswa juga ikut menentukan dan merumuskan tujuan pembelajaran.
3.      Guru membantu siswa mendefinisikan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan massalah tersebut ( menetapkan topic, tugas, jadwal dll).
4.      Guru dan siswa menyusun tugas-tugas belajar bersama-sama. Artinya, tugas-tugas apa yang sebaiknya dikerjakan oleh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, tidak hanya ditentukan guru tetapi juga siswa. Hal ini dilakukan untuk memupuk tanggung jawab siswa. Biasanya manakala siswa terlibat dalam menentukan jenis  tugas dan batas akhir penyelesaiannya, siswa akan lebih bertangguung jawab untuk mengerjakannya
5.      Siswa mengumpulkan informasi yang sesuai masalah yang sedang didiskusikan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
6.      Guru mengawasi jalannya kegiatan pembelajaran dan membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan penyelesaian tugas dan membantu siswa berbagi tugas dengan temannya.
7.      Guru memberikan penjelasan terhadap materi yang sedang dipelajari dan memotivasi siswa untuk mengajukan pertanyaan sebagai partisipasi aktif siswa. Kemudian siswa bersama-sama dengan guru menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran tersebut.

II.5. UPAYA PEMECAHAN KASUS PEMBELAJARAN
Upaya pemecahan kasus pembelajaran dalam strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa dapat pula disebut sebagai kegiatan yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran atau aplikasi strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya yaitu :
1.      Mendengarkan dan diskusi
Diskusi berarti kegiatan pemecahan masalah dengan bertukar pikiran melalui pendapat-pendapat dari setiap anggota kelompok. Dalam kegiatan diskusi sangat ditentukan oleh keterampilan mendengarkan.
2.      Pembelajaran dengan metode Think Pair and Share
Dalam pembelajaran ini siswa dan guru saling memberi dan menerima pemikiran-pemikiran melalui saran dan pendapat. Dalam pembelajaran ini juga menggunakan metode diskusi.
3.      Pembelajaran berdasarkan masalah
Dalam kegiatan pembelajaran ini guru dan siswa memiliki peran yang sama hanya tugasnya yang berbeda. Guru dan siswa bersama-sama menentukan tujuan pembelajaran sampai dengan merumuskan kesimpulan.

BAB III
SIMPULAN
Strategi pembelajaran dalam dunia pendidikan diartikan sebagai perencanaan yang  berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan atau rangkaian kegiatan yang termasuk metode. Strategi pembelajaran juga disusun untuk mencapai tujuan tertentu.  Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa tersebut, peserta didik menjadi subjek pembelajaran karena yang menjadi sasaran pembelajaran adalah aktivitas siswa dalam pembelajaran. Partisipasi atau aktivitas siswa tersebutlah yang menjadi tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Aktivitas siswa yang dimaksud bukan hanya aktivitas fisik, mental, namun juga termasuk aktivitas emosional dan intelektual sehingga aktivitas siswa tersebut adalah secara optimal. Hal tersebut juga dikarenakan untuk mendapatkan hasil yang seimbang dan terpadu antara kemampuan intelektual (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor). Hal tersebut berarti dalam pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa, pembentukan siswa secara utuh merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran. Namun peran guru tidak kalah penting karena guru juga sama-sama menjadi subjek pembelajaran. Dan juga dalam strategi pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa guru tidak berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa, akan tetapi guru berperan sebagai penunjuk dan fasilitator dalam memanfaatkan sumber belajar. Yang lebih penting lagi bahwa peran guru adalah memfasilitasi agar siswa belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Purwati, Siti. 2010. Pengertian Strategi Pembelajaran. http://ilmuagamabuddha.byethost12.com/berita-124-pengertian-strategi-pembelajaran.html. Dikutip pada Jumat, 25 Maret 2011.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

            . 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Suherman, Erman. 2008. Model Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Kompetensi siswa. http://pkab.wordpress.com/2008/04/29/model-belajar-dan-pembelajaran-berorientasi-kompetensi-siswa/. Dikutip pada Minggu, 20 Maret 2011.

03.43 Diposkan oleh arifin 1